| Milarian Nyalira Wae |
|
|
| Kokolot Urang |
|
|
| Orhanisasi Baraya |
|
|
| Ormas Alot |
|
|
| Rerencangan |
|
|
| Tempat Nyiar Elmu |
|
|
| Tempat Curhat Abdi |
|
|
| Noong Warta |
|
|
| Ngintip Warta |
|
|
| Kaping Sabaraha Yeuh |
|
|
| Ngintip Baraya |
free web counter
|
| Kampanye |
|
|
|
|
| Kitab (19) |
| Thursday, June 18, 2009 |
Islam “Citra Rasa” Lokal Oleh IBN GHIFARIE
Rasanya tak berlebihan bila kita membaca tulisan Sukron Abdilah “Sunda dan Kemajemukan Budaya” (Kompas Jabar, Forum Budaya, 6 Juni 2009) memberikan pesan sekaligus mengingatkan kepada kita ihwan semangat Ki Sunda yang sedari dulu selalu mencoba menjaga kebudayaan non-Sunda untuk hidup di daerahnya.
Pesan damai dan toleran Ki Sunda itu terlihat jelas dari rangkaian larik yang disusun almarhum Mang Koko, yang menjelaskan sikap someah kepada non-Sunda sebagai ciri dari kedewasaan (sawawa) Ki Sunda.
Pudarnya Ki Sunda Mari belajar dari Mang Koko “Tanah Sunda, gemah ripah/Nu ngumbara suka betah/Urang Sunda sawawa/Sing toweksa perceka/Nyangga darma anu nyata//Seuweu Pajajaran/Muga tong kasmaran/Sing tulaten jeung rumaksa/Miara pakaya memang sawajibna/Geuten titen rumawat tanah pusaka//”
Kiranya, pameo Islam-Sunda dan Sunda-Islam (Endang Saefuddin Ansory) terus disebarluarkan ke seluruh penjuru Tatar Pasudan, hingga Nusantara ini. Tentunya dengan tidak berbuat ‘ulah’ pada kelompok yang berbeda agama (Hindu, Buddha, Katolik, Protestan, Kunghucu), keyakinan (Sunda Wiwitan, Madrais, Perjalanan, ) keagamaan (Muhammadiyah, Persis, Nu, Al-Irsyad, Jama’ah Tablig). Upaya mengislamkan apalagi tak masuk kategori jatidiri Sunda.
Harus diakui juga, rumusan identitas Sunda selalu akan berubah dan bahkan akan saling bertentangan karena titik tolaknya pada hal-hal eksternal belaka. Padahal hal-hal ekternal muncul dari kedalaman internal.
Rupanya, kehawatiran Jakob Sumardjo dalam nulisan “Mencari Identitas Sunda” (Kompas Jabar, Forum Budaya, 13 Juni 2009) sangatlah beralasan. Pasalnya, pola hubungan ini kerap searah. Apalagi wilayak ketidaksadaran kolektif (arketife) maupun personal malah semakin terkubur sekaligus jauh dari kehidupan keseharian masyarakat Pryangan. Mengerikan bukan?
Kendati, Jakob menegaskan dengan adanya sisitem hubungannya secara berulang menunjukan salah satu identitas kesundaanya.
Cukupkah berhenti pada pola ini? Apalagi penduduk Tanah Sunda ini acapkali dikenal dengan sebutan ramah (someah) terhadap segala bentuk perbedaan.
“Ngeunteung” Ke Si Kabayan Lemah-lembutnya tutur bahasa Sunda petandan kebudayaan beradab. Meski ada yang terkesan vulgar, cawokah, dan penuh jenaka mengisyaratkan rahayat Sunda memang terbentuk oleh watak beragam tersebut.
Tengok saja, sosok si Kabayan yang sering dicitrakan urang Sunda. Pasalnya, sosok unik dan beragama dalam cerita folklore. Singkatnya,berbeda wataknya (lepas, cerdas, jenaka, tidak ambisius) saat bercerita dengan orang lain.
Sikap dan kepribadian ini ia paktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Kala ia mempunyai keinginan (hanyang ngusep lauk) cukuplah memancing. Saat menang satu ikan berakhirlah ngusepnya. Prinsip ini sangat kuat dipegang Si Kabayan. Walaupun mendapat caci, maki dari Si Iteng dan Abahnya.
Uniknya, kisah-kisah si Kabayan selalu ‘diidentikan’ dengan (ajaran) Islam terutama dalam homor Lebe, marebot, santri dan puasa seperti yang ditulis oleh Moch. Fakhruroji. Adalah perilaku orang-orang yang taat menjalankan ajaran Islam. (Asep S. Muhtadi,2008)
Sosoknya seakan tak pernah mati, karena mampu “minda rupa” atau berganti peran secara eksistensial. Menyesuaikan diri dengan perkembangan horizon masyarakat Sunda yang kian kompleks. Ia bisa mancala putera, mancala puteri -dalam artian mampu meragamkan pribadi -menjadi sesosok manusia multi-fungsi yang mengasyikkan, menghibur dan menuntun, tulis Sukron Abdilah, Pegiat Sunda dan Kearifan Lokal (Kompas Jabar, Anjungan, 23 Juni 2007)
Inilah Islam citra rasa lokal. Kemanunggal Sunda-Islam itu terpatri dalam Musyawarah Masyarakat Sunda II (1967). Dengan demikian, jaditdiri Ki Sunda (Islam lokal) ini haruslah dilafadzkan dalam satu tarikan nafas, tanpa memperhatikan perbedaan. Semoga. [Ibn Ghifarie]
*IBN GHIFARIE, Pegiatan Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebesan BeragamaLabels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 6/18/2009 09:27:00 PM  |
|
|
|
| Kitab (18) |
| Saturday, May 30, 2009 |
Pasca pemilihan Calon Legislatif banyak Caleg yang setress. Betapa tidak, setelah habis kerkuras uangnya untuk ongkos pemilu itu, kuris Anggota Dewan yang dicita-citakan pun tak kunjung datang.
Aksi demo yang berujung pada pengrusakan fasilitas Komisi Pemilihan Umum (KPU) di pelbagai daerah menjadi idangan berita keseharian kita. Seakan-akan kekerasan, demi kekerasan sekaligus budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas dalam menyelesaikan persoalan. Diranah politik apalagi.
Padahal, Rasulullah berpesan kepada kita "Mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya juga kafir." (H R Bukhari-Muslim). Jangankan untuk membunuh, saling caci-maki seagama, atau antar beda parpol tak diperbolehkan.
Prinsip inilah yang dipegang kuat oleh Badshah Khan, pejuang risalah muslim antikekerasan dari Perbatasan Barat Laut.
Pasalnya, perlawanan antikekerasan merupakan satu-satunya cara efektif melawan kezaliman.
“Hanya dengan antikekrasan, dunia masa kini bisa bertahan hidup menghadapi produksi masal senjata-senjata nuklir. Sekarang ini dunia lebih mumbutuhkan pesan cinta kasih dan perdamaian Gandhi daripada waktu-waktu sebelumnya. Andai saja dunia sunguh-sungguh tidak ingin menyapu habis peradaban dan kemanusiaannya sendiri dari muka bumi ini�, ungkapnya kepada Eknath Easwaran tahun 1983.
Adalah Badshah Khan (1890-20 Januari 1988). Lahir dan besar dikeluarga berdarah Pushtun atau Pathan (ningrat) di perbatasan Barat laut (Pakistan dan Afganistan) yang beragama Islam. Konon, penduduknya menjadikan balas dendam dan pembunuhan sebagai warisan abadi keluarga.
Postur tubuhnya luar biasa besar dan sosoknya terkesan angker tinggi dengan menjulang ke langit. Tapi, wajahnya memancarkan keteduhan dan perdamaian. Ia merupakan pribadi yang unik, tak suka menyakiti, bahkan berkelahi pun tak pernah.
Kecintaanya terhadap ajaran Mahatma Gandhi yang mempercayai bahwa perlawanan antikekrasan adalah satu-satunya cara sempurna untuk melawan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan, Ia kerap kali dijuluki Gandhi dari perbatasan. Memang Gandhi bagi Khan Abdul Ghaffar Khan adalah murid sekaligus guru antikekerasan.
Kala puluhan ribu bangsanya binasa di tangan kekejaman Inggris, Khan tak sekalipun tergerak untuk membalasnya dengan mengangkat senjata. Kedengaranya, ironis sekali. Malahan Ia mencoba mengkampanyekan gerakan perdamaian dari dari Kampung ke Kampung selama 80 tahun.
Lihat saja, catatanya “Saat masih muda, aku pernah memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan; darah panas kaum pathan mengalir dalam urat nadiku. Namun, di penjara aku tidak mempunyai kesibukan lain kecuali membaca Al-Quran. Aku membaca tentang nabi Muhammad di Mekkah, tentang kesabaranya, pengorbanan dan pengabdianya. Aku pernah membaca semua sebelumnya saat kanak-kanak tetapi sekarang aku membacanya dalam terang dari segala hal yang kudengar di sekelilingiku tentang perjuangan Gandhiji menentang Britsh Raj…Ketika akhirnya bertemu dengan Gandhiji aku mempelajari semua gagasanya tentang sikap antikekerasan dan program konstruktifnya, mereka mengubah hidupku semuanya. (Hal 177)
Keseriusanya kepada gerakan antikekrasan Ia Juga mendirikan sekolah bernama Azad di Utmanzai. Guru dan muridnya menggunakan mimbar “Kebebasan Bercibara� supaya terbuka, toleran dan peka terhadap persaolan di sekitarnya.
Seorang muslim bersahaja ini terus gencar mengajak banyak pemuda untuk mendukung gerakan khudai Khidmatgar (pelayan Tuhan dan Kemanusiaan), sebuah antikekerasan yang dilancarkan untuk membendung kekerasan atas nama apa pun dengan semboyan; Pertama, Aku berjanji akan melayani kemanusiaan dalam nama Tuhan. Kedua Aku berjanji akan menolak kekerasan dan balas dendam. Ketiga, Aku berjanji akan mengampuni mereka yang menindasku atau memperlakukanku dengan kejam. Keempat, Aku berjanji akan menolak terlibat dalm permusuhan dan perselisihan serta tidak mencari musuh. Kelima, Aku berjanji akan memperlakukan setiap orang Pathan sebagai saudara dan temanku (Hal 134-135)
Mencermati kehidupan yang tak kujung selesai dari peperangan, Khan menjawabnya “Dunia sekarang ini sedang berjalan ke arah yang aneh� katanya kepada seorang pewawancara di Afganistan tahun 1985 “Anda bisa melihat kalau dunia ini sedang menuju ke kehancuran dan kekerasan. Hal yang dilakukan oleh kekerasan adalah menciptakan kebencian di antaraumat manusia dan menciptakan ketakutan. Saya orang yang percaya pada antikekerasan. Saya menyatakan bahwa tidak akan ada perdamaian atau keselarasan terlahir di tengah-tengah umat manusia di dunia ini kecuali antikekerasan diperaktikan, karena antikekerasan adalah cinta kasih dan cinta kasih ini mengorbankan keberanian di hati manusia (Hal XII)
Hal serupa pula diungkapkan oleh Mahatma Gandhi saat ditanya apakah menurutnya antikekerasan sungguh-sungguh cara terbaik untuk menyelesaikan konflik. “Tidak� jawabnya. “Antikekerasan bukanlah cara terbaik, melaikan satu-satunya cara�. Kekerasan menciptakan kekerasan lain. Baginya, pejuang antikekerasan yang bisa memutus lingkaran kekerasan itu dan menggerakan hati nurani para pelaku kekerasan untuk menciptakan perdamaian. (Hal XVIII)
Buku ini, menarik untuk dibaca, terutama bagi pegiat antikekerasan dan pegulat perdamaian, karena menyampaikan pesan dua tokoh pionir antikekerasan, Badshah Khan dan Mahatma Gandhi dengan keindahan yang menyentuh hati siapa saja yang merindukan kedamaian.
Selain itu, setiap memesuki bab terlebih dahulu diketengahkan semacam kata kunci sekaligus hikmah untuk mempermudah pembaca memahami sosok muslim pejuang risalah antikekerasan yang terlupakan ini. Juga dilengkapi lampiran kronologis semasa hidup Khan. Sebelah kirinya, peta gerakan antikekrasan dan kananya kejadian luar biasa secara umum di Perbatasan Barat Laut.
Tentu ada kelemahanya, misalkan dalam biodatanya tak dicantumkan tanggal kelahirannya kapan? Ihwal kematianya pun sangat beragam ada yang mencatat tanggal 20, 21, 22 Januari 1988 (Hal 265). Periodik ini berharga sekali bagi kalangan sejarawan.
Tak pernah tercatat dalam sejarah sebuah negara dimerdekakan tanpa bersimbah darah. Namun, Gandhi membuktikanya dengan membebasakan India dan Khan melepaskan belenggu biadab, bengis, keras, picik, buas seperti macan tutul, pembunuh yang penuh tipu daya pada Suku Pushtun
Sejatinya, sikap antikekrasan merupakan petanda orang-orang yang berani dan tak tergoyahkan; tenti saya tidak ada orang dimuka bumi ini yang lebih brutal dan tak tergoyahkan daripada orang pathan, bahkan rata-rata suku Pashtun lebih memilih mati daripada dilecehkan. Ia menyembunyikan benih-benih kebenaran yang lebih dalam. Benih-benih yang sangat dibutuhakn oleh dunia kita yang letih dan penuh kekerasan. Sudah tiba saatnya kisah ini diceritakan. (Hal 9)
Kiranya, kita mesti belajar antikekerasan dari Badsah Khan bila ingin hidup damai, cinta, tentram dan sejahtera di Negara Indonesia ini. “Dua jenis pergerakan dilancarkan di provinsi kita. Pergerakan dengan kekerasan (perlawanan sebelum 1919) menciptakan kebencian di benak rakyat kita terhadap kekerasan. Namun, pergerakan tanpa kekerasan menerangkan kecintaan, hasrat dan simpati rakyat. Jika seorang Inggris terbunuh dalam pergerakan dengan kekerasan bukan hanya orang yang bersalah yang dihukum seluruh desa dan wilayah pun menderita karenanya. Rakyat menganggap kekerasan dan para pelakunya bertanggungjawab atas represi tersebut. Dalam gerakan antikekerasan, kita mengorbankan diri kita sendiri dank arena itulah gerakan ini memenangkan cinta dan simpati rakyat. (Hal 173-174).
Marilah kita berguru pada Badshah Khan tentang antikekerasan. Terwujudnya masyarakat, adil, sejahtera, damai, terbuka, toleran menjadi cita-cita bangsa Indonesia ini. Semoga.
IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan bergulat di Gerakan Antikekerasan.
Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 5/30/2009 12:47:00 AM  |
|
|
|
| Kitab (17) |
| Sunday, May 17, 2009 |
Kerusakan lingkungan di Tatar Sunda merupakan cermin hilangnya kearifan lokal. Masyarakat tidak lagi peka dengan tanda-tanda alam dan cenderung mencari keuntungan materi semata.
Uniknya lagi, saat menjawab pertanyaan, "Mengapa Jawa Barat tidak maju dalam bidang apa pun?", Badan Perencanaan Daerah Jabar memberikan penjelasan, "Kondisi itu merupakan akibat dari masyarakat yang sudah tidak memerhatikan nilai-nilai budaya yang menjunjung tinggi etika dan keselarasan hidup dengan alam" dalam Kerangka Acuan Sarasehan Budaya (25/8).
Hadirnya perayaan Trisuci Waisak 2553 BE/2009 yang jatuh pada 9 Mei 2009 akankah bisa mengembalikan spirit keadilan, kemerdekaan sekaligus membuka ruang untuk saling melengkapi antara Dharma Sang Buddha dan tradisi leluhur yang ada dalam khazanah kearifan lokal.
Saatnya bangkit Kala rembulan bulat sempurna pada bulan Waisak, dunia mengenang kembali tiga peristiwa bersejarah menyangkut kehidupan Buddha Gautama, yakni kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan parinirwana (meninggal dunia).
Kata Buddha sendiri mengandung pengertian bangun, bangkit, atau sadar, seperti ditulis oleh Mahathera Nyanasuryanadi, Ketua Umum Sangha Agung Indonesia, Pembina Majelis Buddhayana Indonesia, yaitu "Buddha bukan nama diri, melainkan gelar untuk orang yang telah mencapai pencerahan. Ketika merayakan Waisak, lebih dari sekadar peringatan historis, kita selalu memperbarui semangat untuk bangkit, tidak lengah, tidak terlena."
Merenungkan Buddha berarti sadar, mengerti, dan peduli pada apa yang terjadi di dalam dan di luar diri kita. Seperti yang ditunjukkan oleh Pangeran Siddharta, yang dibesarkan di tengah kemewahan, ia menyadari bahwa semua makhluk, termasuk dirinya, merupakan sasaran dari penderitaan. Saat melihat dan memikirkan kesedihan orang lain, dukacita mereka menjadi miliknya. Ia menaruh peduli, karena itu bangkit untuk mencari jalan mengatasinya (Kompas, 19/05/2008).
Bila kita kuat memegang amanat Buddha, niscaya tak akan ada lagi dalih pembangunan (modern) dan keterbelakangan penduduk (tradisional) oleh pemerintah (pusat, provinsi, dan daerah), kelompok penguasa dan pemangku kebijakan tertentu, dan orang bermodal terhadap golongan (masyarakat adat) yang kuat memegang teguh tradisi leluhurnya. Seolah-olah mereka tak tersentuh pembangunan dan harus dimodernkan. Inilah wajah muram pemerintah dalam menghargai pelbagai khazanah kearifan lokal.
Kearifan lokal Kerusakan alam, lingkungan, melemahnya budaya Sunda (sikap, perilaku), dan kurangnya perhatian kepada ajaran karuhun (nenek moyang) menjadi pemandangan keseharian kita. Padahal, sebelum agama Hindu, Buddha, Islam, Katolik, Protestan, dan Konghucu hadir di Tatar Pasundan ini, kearifan lokal sekaligus agama pribuminya (indigenous religions) telah terpatri dalam sanubari masyarakat Parahyangan sebagai pedoman kehidupan bersama.
Diakui atau tidak, Ahmad Gibson Al-Busthomie, pegiat studi budaya Sunda, menjelaskan, "Ketika budaya Sunda berinteraksi dengan kebudayaan dan sistem keyakinan (agama) lain dari luar: Hindu, Buddha, dan Islam, budaya Sunda mengambil peran dinamis dalam proses pertemuan sistem nilai tersebut. Secara khusus dalam proses pertemuannya dengan Hindu dan Buddha."
Dengan tegas harus kita katakan, penganut satu kepercayaan bukanlah para misionaris. Mereka cukup puas dan merasa aman hidup serta berteologi dengan menggunakan caranya sendiri.
Dalam konteks Jabar, umat Buddha aliran Theravada selalu sembahyang dan menjalankan ajaran Dhamma di Vipassana Graha yang berada di bawah Yayasan Bandung Sucino Indonesaia. Yayasan ini sebagai Pusat Meditasi Buddhis yang berlokasi di Jalan Kolonel Masturi Nomor 69, Lembang, Kabupaten Bandung.
Sejak dibangun pada tahun 1992, kompleks Vipassana Graha merupakan kawasan terpadu bagi umat Buddha. Di tempat ini, terdapat berbagai macam bangunan, dari tempat ibadah, sekolah tinggi, hingga rumah para biksu.
Candi Panca Bala sebagai bangunan utama dari Vipassana Graha ini memiliki lima puncak candi yang mengartikan nama Panca Bala itu sendiri. "Panca berarti lima, dan bala itu kekuatan," ujar seorang rohaniwan Vipassana Graha Bhante Thitasddo, saat ditemui detikbandung.
Lima kekuatan tersebut antara lain Saddha yang berarti keyakinan; Viriya yang berarti semangat; Sati yang berarti kesadaran; Samadhi yang berarti konsentrasi; dan Panna yang berarti kebijaksanaan.
Keharmonisan Buddha dengan khazanah kearifan lokal di Vipassana Graha ini terlihat jelas waktu membuka secara resmi dan memberikan kuliah perdana di Kampus B, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Dharma Widya, Program Kepanditaan dan Jurusan Guru, Sabtu (8/11/2008).
YM Phra Wongsin Labhiko Mahathera, Ketua Sangha sekaligus Pembina STAB Dharma Widya, lebih mengutarakan visi dan misi Dharma Widya, yakni berprestasi dalam pendidikan, pengajaran, dan pengetahuan. Di samping itu, juga harus berbudi pekerti luhur, mandiri, dan berguna bagi masyarakat lokal.
Salah satu bentuk membudayakan kearifan lokal, acara peresmian ini dipadu oleh Angklung Gita Pundarika NSI, penyanyi solo Maitreya, dan kesenian dari grup seni Jabar Tan Deseng (http://www.walubi.or.id).
Dengan demikian, Waisak harus menjadi momentum kebangkitan khazanah kearifan lokal. Bukan malah sebaliknya kita sengaja menabur ayat-ayat penuh kebencian dan fitnah pada tradisi leluhur.
Petuah Buddha Gautama di khotbah terakhir di hutan Sala milik suku Malla, di antara pohon sala besar di dekat Kusinara, menyebut Pasal 4, yaitu "Praktikkan ajaranku. Ajaranku yang terpenting adalah; Anda harus bisa menaklukkan diri sendiri. Jauhkan keserakahan dan nafsu keinginan. Berjalan di tempat yang benar menjalankan hidup suci dengan kejujuran dan kebenaran. Selalu mengingat; kehidupan dan tubuh ini sangat singkat dan sementara. Bilamana dapat merenungkan sedemikian rupa, Anda akan bisa menjauhkan keserakahan dan nafsu keinginan, dendam, dan amarah. Anda bisa menjauhkan kejahatan."
Inilah makna terdalam Waisak bagi ngamumule kearifan lokal. Terwujudnya kedamaian, kerukunan, dan bersahabat dengan alam merupakan cita-cita masyarakat Jabar yang beradab. Selamat Hari Raya Waisak 2553 BE/2009. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semua makhluk berbahagia.Sadha, sadha, sadha. Semoga.
IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 5/17/2009 03:31:00 AM  |
|
|
|
| Kitab (16) |
|
Khotbah Terakhir Sang Buddha # 1 Oleh IBN GHIFARIE
Agama (keyakinan, keimanan) boleh berbeda-beda. Namun, pada dasarnya semua agama mengajarkan kebajikan dan perdamaian. Hidup sederhana dan selalu berpikir mulia pun menjadi tujuan hidup manusia.
Ikhtiar menjalankan kehidupan bermakna dan bermanfaat bagi agamanya juga keyakinan orang lain pun terus disebarluskan oleh para pemuka agamanya. Hingga akhir hayatnya pula ajaran kebajikan itu terus dipelajari, dihayati dan diperaktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ibarat Muhammad SAW menjelang tutup usianya masih memberikan ajaran kebajikan dan melarang kejahatan.Proses Haji Wada (Khotbat Terakhir) menutup risalah perjuangan sekaligus penegakan Keesaan Tuhan berakhir.
Dalam kehidupan Sang Buddha, perilaku yang hampir sama juga terjadi. Khotbah Terakhir Hyang Buddha di Hutan Sala milik Suku Malla, di antara Pohon Sala besar di dekat Kusinara, terangkum dalam naskah Yunus H dengan memuat 16 pesan, diantaranya:
Jadilah perlindungan bagi dirimu sendiri. Janganlah menyandarkan nasibmu pada makhluk lain. Jadilah pelita bagi dirimu sendiri. Memegang teguh Dharma sebagai pelita dan perlindungan. Jangan mencari perlindungan lain. (Pasal 1)
Sang Buddha membabarkan Dharma 45 tahun lamanya. Selalu hadir pada setiap saat, tanpa mengenal letih dan lelah. Dengan pancaran penuh cinta kasih dan welas asih secara terus berjalan kali melalui tiupan angin dan debu ke seluruh pelosok negeri.
Jelang Hari Raya Waisak 2553 BE/20009 yang jatuh pada tanggal 9 Mei 2009. Sejatinya, khotbah terakhir kita renungkan sekaligus sebarluaskan pesan suci ini. Semoga. [Ibn Ghifarie]
IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan BeragamaLabels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 5/17/2009 03:27:00 AM  |
|
|
|
| Kitab (15) |
|
Waisak dan Perdamaian Momentum Waisak 2553 BE yang jatuh pada 9 Mei 2009. Sejatinya harus menjadi modal utama dalam membangun keharmonisan dialog antaragama sekaligus membawa pesan kedamaian bagi kerukunan hidup beragama di bumi pertiwi ini. Pasalnya, segenap umat Buddhis di Nusantara ini meyakini keharmonisan dan perdamaian merupakan segenap berkah terpenting dalam pergantian Waisak.
Mampukah kehadiran peringatan Sang Agung Buddha ini tidak hanya merayakan Tri Suci Waisak Puja (kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan parinirwana; meninggal dunia), tapi dapat menebar sifat kerukunan dan antikekerasan supaya bangsa Indonesia ini bisa keluar dari pelbagai krisis dan konflik; antarsuku, antaretnis, antarbudaya, dan antaragama (keyakinan dan keimanan)
Pesan trisuci
Marilah kita mencoba belajar dari agama dan pemahaman orang lain. Salah satunya ajaran Buddhisme--yang tengah merayakan upacara Vesakha Punnami Puja dan tujuh hari setelahnya mengadakan Vesakha Atthami Puja untuk memperingati diperabukannya Buddha Gautama.
Tibanya Hari Raya Waisak, mengingatkan kita kepada tiga peristiwa luar biasa yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran calon Buddha (Bodhisatta) Siddhattha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha, serta wafat Buddha atau Parinibbana. Konon, peristiwa mahaagung itu terjadi pada hari purnama sidi di bulan Waisak lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lampau. Tahun 623 S.M. Bodhisatta Siddhattha lahir di Taman Lumbini, India Utara; tiga puluh lima tahun kemudian beliau mencapai Pencerahan Sempurna sebagai Buddha, dan akhirnya Buddha Gotama mangkat pada 543 S.M. Tahun ini Hari Raya Waisak 2553 jatuh pada 9 Mei 2009.
Peringatan Waisak dalam konteks Indonesia yang di bawah Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) bertajuk "Bersama Buddha Dharma, Kita Tingkatkan Keharmonisan Bagi Nusa dan Bangsa" dengan subtema "Hikmah Waisak Membawa Kedamaian Bagi Bangsa dan Negara". Ini menunjukkan keseriusan Walubi dalam membangun keharmonisan dan perdamaian yang tak kunjung hadir di Indonesia ini.
Kunci kebahagiaan
Kehadiran Hari Raya Waisak tak sekadar mengingat tiga kejadian dahsyat, tapi harus mencoba membangkitkan keharmonisan dan kedamaian yang terpancar dari sosok Sang Buddha ke tengah-tengah kehidupan ini.
Umat Buddhis masih meyakini tentang Kebenaran Dhamma dapat menuntun hidupnya menjadi lebih baik, lebih bijak, dan tentu lebih berbahagia. Jalan hidup Dhamma yang diajarkan Buddha mengutamakan moral (sila) sebagai landasan bagi penerapan Kebenaran Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Kedua aspek ini diharapkan saling melengkapi.
Ini terlihat dalam praktik kehidupan sehari-hari. Yakni makan dan minum dalam damai, duduk dan berjalan dalam damai, tidur dan bangun pun dalam damai. Karena berpedoman pada Dhamma dalam aktivitas kehidupan sehari-hari merupakan pedoman untuk tetap menjaga keseimbangan dan keselarasan alam.
Dengan demikian, pikiran damai dan sikap mental yang tenang berakar pada pengungkapan perhatian dan kasih sayang, rasa berterima kasih serta puji sukur, sebab cinta kasih dan tenggang rasa merupakan watak dasar yang dibutuhkan segenap makhluk hidup. Pun melalui cinta kasih makhluk dapat bertahan hidup dan melangsungkan kehidupannya.
Sejatinya, pandangan dan pikiran yang mengarah pada perdamaian dan keharmonisan serta kekuatan cinta kasih selalu memberi simpati yang bermuara pada kebahagiaan. Tentu, seseorang yang mengembangkan dan menyebarluaskan sikap ini akan memberikan keteduhan hati dan kemuliaan diri.
Inilah makna terdalam Waisak bagi mewujudkan keharmonisan antaragama dan perdamaian. Petuah Buddha Gotama di khotbah terakhir di Hutan Sala milik Suku Malla, di antara Pohon Sala besar di dekat Kusinara, di antaranya, "Di antara kalian janganlah saling bermusuhan. Harus saling menghormati satu sama lain. Janganlah hidup seperti air dan minyak. Saling berlawanan. Anda harus hidup bersama seperti air dan susu. Saling bercampur" (pasal 7). Dan "Siswaku belajarlah bersama-sama. Memperdalam pengetahuan Dharma bersama-sama. Jalankan hidup suci bersama-sama. Janganlah membuang tenaga dan waktu dengan hampa. Janganlah menyia-nyiakan waktu dengan hidup bermalas-malasan, pertengkaran, dan perdebatan yang tak bermanfaat. Kalian harus lebih berbahagia mempunyai bunga dan buah Dharma. Inilah kebahagiaan Dharma" (pasal 8).
Inti ajaran Buddha, tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan, menyucikan hati dan pikiran. Inilah ajaran para Buddha tertanam dalam sanubari kita. Selamat Hari Raya Waisak 2553/2009. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semua mahkluk berbahagia. Sadha, sadha, sadha. Semoga.***
Penulis, alumnus Studi Agama-agama dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (Irfani) Bandung.
Labels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 5/17/2009 03:18:00 AM  |
|
|
|
| Kitab (14) |
| Sunday, April 12, 2009 |
Wafat Yesus Kristus dan Semangat Pembebasan Oleh IBN GHIFARIE
Menilik hasil laporan tahunan kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan tahun 2008 yang disampaikan Hendardi, Ketua Badan Pengurus Setara Institute kepada wartawan di Jakarta (13/1) menjelaskan Jawa Barat (73 peristiwa), menempati urutan teratas dari Sumatra Barat (56 peristiwa) dan Jakarta (45 peristiwa) bila dilihat dari wilayah terjadinya 367 tindak pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi dalam 265 peristiwa.
Peristiwa terbanyak terjadi pada bulan Juni (103 peristiwa). Bulan Juni merupakan bulan desakan sekaligu persekuasi terhadap Ahmadiyah mengalami ekskalasi cukup tinggi, baik sebagai desakan terhadap pemerintah agar mengeluarkan Keputusan Presiden tentang Pembubaran Ahmadiyah maupun sebagai dampak serius dari adanya SKB Pembatasan Ahmadiyah.
Parahnya lagi, Ancaman demi ancaman terhadap keberagaman (pluralisme) Indonesia kian hadir seiring produk perundang-undangan yang diciptakan oleh lembaga konstitusi. Salah satunya adalah keputusan Mahkamah Konstitusi tentang parlementary treshold mengenai batasan kursi di DPR/MPR sebanyak 2,5% bakal mengancam minoritas di DPR/MPR.
Demikian disampaikan oleh Damianus Taufan dari Setara Institute, Ia menuturkan "Bahkan minoritas akan tenggelam, padahal belum tentu mayoritas yang mewakili pengambilan suara terbanyak itu menjadi hal yang benar," saat menjadi pembicara dalam diskusi publik Pentingnya Pluralisme Demi Menjaga Keutuhan NKRI di gedung Nusantara I, Jakarta, Selasa (17/3).
Ambil contoh, UU PMPS tahun 1965 pasal 1 dan 2. Pasal 1 tentang kebebasan kehidupan beragama tapi membatasi beberapa tindakan yang menyangkut perbedaan, dan pasal 2 tentang pengeluaran SKB tiga menteri (Agama, Sosial, Kesra) bila terjadi selisih paham antar pemeluk agama "UU PMPS itu bahkan masuk dan menjadi acuan dalam pasal 156 A KUHP," tegas Damianus, Sekjen Jaringan Aktivis Pro-Demokrasi Andrianto. (Kompas,17/3)
Mampukah kehadiran Wafatnya Isa Al-Masih yang jatuh pada tanggal 10 April 2009 dapat memberikan spirit keadilan, kemerdekaan sekaligus membebaskan ketertindasan manusia atas nama agama, keyakinan bagi kelompok minoritas.
Pesan Tri Suci
Momentum kematian Yesus Jeristus merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Kristiani berbasis keimanan yang kukuh (penyayang, saling kasih, rela berkorban, mendidik). Penyaliban Mesias pun menjadi petanda peradaban Juru Selamat untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Singkatnya, pengorbanan Yesus ditiang salib yang dihianati oleh umatnya (Yudas) harus menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Kristiani sekaligus umat beragama ditengah silih menyusulnya bencana alam (Situ Gintung), kesemrawutan (Undang-undang dan Keputusan Surat Bersama 3 Mentri), ketidak pastian hidup (krisis ekonomi, sosial, politik) yang kian tak menentu.
Prosesi Jumat Agung ini tak bisa dilepaskan dari tradisi Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah. Rasanya, tak berlebihan bila kita absent melewatinya kebiasaan itu, maka dapat dikategorikan kurang tulus dalam menjalankan ajaran Yesus ini.
Pasalnya, ketiga aktivitas itu berturutan-berkaitan; menyatu-tak terpisahkan. Bersama-sama, ketiganya membawa pesan suci mengenai iktiar penebusan dosa, pembaruan hidup, pengharapan, semangat bertahan di tengah-tengah kegalauan kehidupan beragama ini.
Jika kita kuata memegang amanat Tri Suci itu niscaya tak akan ada lagi upaya 'penertibak keagamaan dan keyakinan' oleh aliran tertentu terhadap kelompok yang berbeda. Deretan 73 Kasus pelanggaran kekerasan, pencemoohan, pencacian, hingga berujung pada kematian pun tak akan ada lagi di Bumi Pasundan ini.
Semangat Pembebasan
Menurut Zuly Qodir Peneliti di Institute for Inter-Faith Dialogue in Indonesia (Interfidei) Yogyakarta menuliskan keimanan yang konsekuen adalah "keimanan yang mampu berdialog" dengan realitas sosial yang mengelilingi sekitarnya. Di sanalah sebenarnya spiritualitas Wafatnya Isa Al-Masih mendapatkan tempatnya.
Dengan demikian, kesalehan, ketundukan dan ketaatan menjadi modal utama dalam beragama supaya bisa membebaskan kelompok tertindas
Sekali lagi, pengorbanan Sang Juru Selamat disalib harus dimaknai salah satu ajaran agama yang bersifat membebaskan manusia dari sikap kepicikan, curang, angkuh, tak mau nerima pendapat orang dan argumennya mesti diikuti. Mengerikan.
Supaya Kematian Yesus ini menumbuh kembangkan semangat berkurban dan berjiwa pembebasan dalam membangun tatanan masyarakat berkeadilan, dinamis, sejahtera, elegan, dan toleran, maka dialog antaragama tak hanya dilakukan oleh segelintir pemuka agama (elitis), tapi harus menyentuh ke akar rumput (grass root).
Demikian diungkapkan oleh Pdt. Dr. A.Andreas Ewangoe Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia dalam Seminar Nasional Dan Temu Tokoh Lintas Agama di Auditorium UIN SGD Bandung bertajuk “Penguatan Terhadap Signifikansi Agama : Menjawab Krisis Global Menyongsong Tatanan Dunia Baru”, Rabu (18/3)
“Apa yang harus kita cari adalah kesamaan agar tumbuh kebersamaan. Para penganut agama sangat mungkin bekerjasama memerangi kemiskinan secara lintas agama,” katanya.
Semangat pembebasan yang diperjuangkan Yesus merupakan konsekuensi dari kesetiaan-Nya secara mutlak terhadap kehendak Allah dan kasih-Nya yang sempurna terhadap umat manusia. Ketaatan dan kesetiaan merengkuh pilihan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan berujung pada penolakan dan hukuman salib yang harus dipikulnya.
Inilah makna terdalam Wafatnya Isa Al-Masih bagi kelompok tertindas dalam membangun persaudaraan sejati. Kiranya, kita terus mendengungkan renungan Leonardo Boff, teolog, filusuf sekaligus pendiri Teologi Pembebasan Gereja Katolik mencatan sejarah mengagungkan keberanian orang-orang yang menanggung kematian sekaligus penderitaan orang-orang yang rendah, dan mereka yang melakukan revolusi yang membebaskan hak-hak kaum miskin dan mereka yang tersisihkan.
Akhirnya, harapan Jaringan Kerja Pemantauan dan Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Jawa Barat dan Komisi III DPR pada 15 Desember 2008 berjanji untuk berkomitmen atas penegakan hukum yang merugikan minoritas pun segera mewujud di Jabar mandiri, dinamis dan sejahtera. Semoga.
*IBN GHIFARIE, Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan BeragamaLabels: Ageman
Aos Salengkapna.....!
|
posted by ibn ghifarie @ 4/12/2009 09:14:00 PM  |
|
|
|
|
| Pribados |
|

Name: Ibn Ghifarie
Home: Bungbulang Garut-Selatan (Garsel), Jawa Barat, Indonesia
About Me: Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam pangwanoh sikuring urang Kanangwesi Bungbulang Garut Selatan. Ayeuna, nuju milarian pangaweruh dipuseureun dayeun Kotakemang.Sasakali, nyerat, ngobrol, ngablog oge teu hilap. "Maka Ambillah Pena!!" Wassalamu`alaikum Wr. Wb.
See my complete profile
|
| Paririmbon |
|
| Jang-Jawokan |
|
|
| Isian Wae Baraya |
|
|
Ngahub Wae |
| Kana email: ibn_ghifarie@yahoo.com, ibnu.ghifarie@gmail.com atanapi ka +6281809409807 |
Kampanye |
|
|
|